Nama :
Anugrah Bhuwana Arganata (04) / 6-B
Sang
Inspirator, Mohammad Hatta
Drs. Mohammad Hatta lahir pada 12
Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pria yang akrab disapa dengan
panggilan Bung Hatta ini merupakan seorang tokoh nasional, negarawan, pelopor
koperasi, tokoh proklamator, dan wakil presiden pertama Republik Indonesia.
Bung Hatta terlahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ayahnya
adalah seorang keturunan ulama di Batuhampar, Sumatera Barat. Sedangkan ibunya
berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Beliau lahir dengan nama
Muhammad Athar. Nama Athar diambil dari bahasa Arab yang berarti harum. Beliau
merupakan anak kedua setelah Rafiah yang lahir tahun 1900. Sejak kecil Bung
Hatta telah dididik dan dibesarkan di keluaarga yang taat menjalankan ajaran
agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah yaitu Abdurrahman Batuhampar dikenal
sebagai ulama yang mendirikan Surau Batuhampar, yang mana sedikit dari surau
yang bertahan setelah Perang Padri. Ayahnya meninggal saat beliau berusia tujuh
bulan. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang pedagang
dari Palembang yang bernama Agus Haji Ning. Agus Haji Ning sering berhubungan
dagang dengan Ilyas Bagindo Marah, yang merupakan kakek Bung Hatta dari pihak
ibu. Dari pernikahan tersebut, terlahirlah empat orang anak yang semuanya
adalah permpuan.
Bung Hatta pertama kali mengenyam
pendidikan formal di sekolah swasta. Setelah enam bulan berada di sekolah
swasta, beliau pindah ke Sekolah Rakyat. Namun pada pertengahan semester kelas
tiga, kegiatan belajar mengajar dihentikan. Kemudian beliau pindah ke ELS
(Europeesche Lagere School; yang merupakan SD pada zaman kolonial Belanda) di
Padang sampai tahun 1913. Kemudian beliau melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid
Lager Onderwijs: SMP pada zaman kolonial Belanda) sampai tahun 1917. Selain
pengetahuan umum, beliau telah ditempa dengan ilmu-ilmu agama sejak kecil. Beliau
pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa
ulama lainnya. Bung Hatta juga tertarik dengan perdagangan. Di Padang, beliau
mengenal pedagang-pedagang yang tergabung sebagai anggota Serikat Usaha dan
beliau juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatan ini
tetap dilanjutkan ketika beliau bersekolah di Prins Hendrik School.
Bung Hatta memulai karir politiknya
ketika menetap di Rotterdam pada tahun 1921 tepatnya saat beliau bergabung dengan
sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda yang bernama Indische
Vereeniging. Pada mulanya, organisasi tersebut hanya merupakan organisasi
perkumpulan bagi pelajar, namun seiring dengan berjalannya waktu organisasi
tersebut berubah menjadi organisasi kemerdekaan pada saat tiga tokoh Indische
Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) bergabung
dengan Indische Vereegning yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan
Indonesia.
Di
organisai Perhimpunan Indonesia, Bung Hatta mulai meniti karir di jenjang
politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan terpilih menjadi ketua pada
tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato
inagurasi yang berjudul “Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan”.
Dalam pidatonya, beliau mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada
pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Bung Hatta
berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan
yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik
rakyat Indonesia. Sebagai ketua PI saat itu, Bung Hatta memimpin delegasi
Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada
tahun 1926. Beliau mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama
Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun
1927, Bung Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme
di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.
Aktivitas
politik beliau yang semakin intens, mengakibatkan Bung Hatta ditangkap oleh
tentara Belanda. Namun beliau bukan satu-satunya
pelajar yang ditangkap, ada juga Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan
Abdul madjid Djojodiningrat. Selama lima setengah bulan mereka ditahan dan
diinterogasi berulang kali sampai akhirnya diajukan ke sidang pengadilan. Bung
Hatta menolak didampingi seorang pengacara, beliau akan melakukan pembelaan
oleh dirinya sendiri. Sidang di pengadilan akhirnya memutuskan bahwa tuduhan
terhadap Bung Hatta dan rekan-rekannya tidak dapat dibuktikan. Akhirnya mereka
dibebaskan setelah Bung Hatta berpidato dengan pidato pembelaan berjudul:
Indonesia Free.
Pada tahun 1932, Bung Hatta kembali ke Indonesia dan
bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan diadakan
pelatihan-pelatihan. Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi
ini mendapat tanggapan keras dari Bung Hatta. Beliau mulai menulis mengenai
pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Bung Hatta inilah
pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan
Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai utuk diasingkan
ke Digul, Papua.
Bung Hatta adalah salah satu tokoh
partai Pendidikan Nasional Indonesia yang juga diasingkan oleh pemerintah
kolonial Belanda. Pada masa pengasingan di Digul, beliau aktif menulis di
berbagai surat kabar. Beliaua juga rajin membaca buku yang beliau bawa dari
Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun
1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Bung Hatta dan Sjahrir
dipindahkan ke Banda Neira. Di sanalah, Bung Hatta dan Sjahrir mulai memberi
pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya.
Setelah delapan tahun diasingkan, Bung Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke
Sukabumi pada tahun 1942. Satu bulan kemudian, pemerintah kolonial Belanda
menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Bung Hatta dan Sjahrir dibawa ke
Jakarta.
Kemudian beralihlah kekuasaan Kolonial Belanda ke
tangan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, sedang terjadi perang antara Blok
Poros (Jepang, Italia, Jerman) dan Blok Sekutu ( Amerika Serikat, Inggris, Uni
Soviet, China). Jepang membutuhkan banyak pasukan untuk memenangkan perang.
Lalu Jepang menjanjikan kemerdekaan apabila perang sudah usai. Untuk itulah
pada awal Agustus 1945, dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan kemudian berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia dengan Ir. Soekarno sebagai Ketua dan Bung Hatta sebagai Wakil Ketua.
Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri
dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks
proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno
dan Hatta atas usul Soekarni.
Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur 56
tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Ir. Soekarno
dan Dr. Mohammda Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada
tanggal 18 Agustus 1945 Ir. Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil
Presiden.
Setelah
Indonesia merdeka, selang beberapa bulan tepatnya pada 18 November 1945 beliau
menikah dengan Siti Rachmiati. Siti
Rachmiati adalah seorang wanita asal Bandung yang lahir pada 16 Februari 1926.
Beliau menikah di Desa Megamendung,
Bogor, Jawa Barat. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga orang puteri
yang bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah
Hatta.
Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah menyebar
sampai ke Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah
Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan
Republik Indonesia dipindah ke Yogyakarta. Ada dua kali perundingan dengan
Belanda yang menghasilkan perjanjian Linggarjati dan perjanjian Renville.
Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.
Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru
dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan
melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum oleh PBB. Banyaknya
kesulitan yang dialami oleh rakyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh
PKI sedangkan Ir. Soekarno dan Bung Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya
kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman. Perjuangan rakyat
Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan
pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.
Setelah kemerdekaan benar-benar telah dimiliki oleh
rakyat Indonesia, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai
lembaga pendidikan. Beliau juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan
membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Pada 12 Juli
1951, Bung Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan
selang hari lima hari kemudian Beliau diangkat menjadi Bapak Koperasi
Indonesia.
Pada tanggal 1 Desember 1956, rakyat Indonesia
dikejutkan oleh keputusan beliau untuk meletakkan jabatannya sebagai wakil
presiden. Pengunduran itu bukan semata-mata lantaran Bung Hatta tak merasa
cocok dengan Bung Karno, tetapi juga karena menurutnya sikap DPR yang tidak
menetapkan keduanya sebagai presiden dan wakil presiden dengan peranan
seharusnya dalam kabinet presidensial. Bung Hatta beserta keluarganya lalu
pindah ke Jalan Diponegoro. Ketika memindahkan barang-barang ke rumah barunya,
yang mula-mula diangkut beliau bukan perabot rumah tangga, melainkan
buku-bukunya. Dari Jalan Merdeka Selatan 13, buku itu diikat jadi satu dalam
tumpukan-tumpukan yang sesuai urutan semula dan sebagian bukunya dimasukkan ke
dalam peti-peti alumunium yang masih tersimpan sejak dulu.
Pada
14 Maret 1980 Bung Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena
perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Bung Hatta mendapatkan
anugerah tanda kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” yang
diberikan oleh Presiden Soeharto. Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar
Pahlawan Proklamator kepada Bung Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan
mendiang Bung Karno. Pada 7 November 2012, Bung Hatta secara resmi bersama
dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.
Selama masa hidupnya, ada banyak
pelajaran yang dapat diambil untuk dijadikan panutan. Dari masa beliau
mengenyam pendidikan dan sampai wafatnya.terdapat kisah insspiratif yang patut
kita ketahui dan kita ambil hikmah dari apa yang beliau lakukan. Yaitu cerita
beliau mengenai Sepatu Bally dan Mesin Jahit.
Dalam kehidupan, seorang
menginginkan sesuatu adalah merupakan hal yang wajar. Tidak lain seperti yang
diinginkan oleh Bapak Proklamator Republik Indonesia dan juga wakil presiden
pertama Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta. Beliau menginginkan Sepatu
Bally yang sudah lama beliau idamkan. Sepatu Bally adalah sebuah sepatu yang
bermerek Bally yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta berusaha
menabung untuk membeli sepatu tersebut. Namun tabungannya tidak pernah cukup
untuk menbelinya karena selalu digunakan untuk memmenuhi kebutuhan rumah
tangganya dan jika ada saudara yang membutuhan bantuan beliau. Beliau bias saja
menggunakan posisinya sebagai orang nomor dua di Indonesia untuk mendapatkan
sepatu Bally ini dengan sangat mudah. Tetapi beliau tidak melakukannya.
Yang kedua adalah kisah tentang
mesin jahit. Walaupun Bung Hatta saat itu adalah Wakil Presiden Republik Indonesia,
namun untuk menbeli mesin jahit tidak semudah yang dibayangkan oleh orang-orang.
Untuk membelinya, istri beliau yaitu Siti Rachmiati menabung sedikit demi
sedikit dengan menyisihkan dari penghasilan Bung Hatta. Namun, ketika uang
telah hampir cukup untuk membeli mesin jahit, tiba-tiba Pemerintah melakukan
kebijakan sanering yaitu pemotongan nilai uang dari Rp 100 menjadi Rp 1. Kian
jauhlah harapan memiliki mesin jahit bagi Ibu Siti Rachmiati. Lalu beliau
bertanya kepada Bung Hatta mengapa tidak segera memberi tahu bahwa Pemerintah
akan melakukan sanering. Lalu Bung Hatta pun menjawab dengan kalem bahwa itu
rahasia negara, jadi tidak boleh diberitahukan kepada siapapun, termasuk
keluarga sendiri.
Dari kisah beliau tersebut, dapat
menjadi inspirasi bagi kita semua. Pertama, ketika beliau muda dan saat tersebt
adalah saat menimba ilmu beliau selalu berkutat dengan buku yang tak lain
adalah pengetahuan. Ke manapun beliau pergi selalu tidak lepas dari buku,
bahkan ketika beliau diasingkan. Pada zaman sekarang, teknologi informasi sudah
berkembang dengan pesat. Sudah seharusnya pengetahuan kita lebih luas dari Bung
Hatta, tapi apakah benar pengetahuan kita lebih luas dari beliau? Atau kita
malah terbuai dengan perkembangan teknologi informasi dan malahan
menyalahgunakannya? Semoga kita termasuk yang sadar akan pentingnya ilmu
pengetahuan, sebagaimanan Bung Hatta yang mana beliau adalah generasi abad ke
19 namun beliau sadar betul akan pendidikan.
Yang kedua, yaitu Bung Hatta tidak
mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Hal ini dapat kita
lihat dengan jelas pada cerita sepatu Bally yang sampai akhir hayat beliau
sepatu tersebut tidak pernah terbeli. Sikap beliau meninggalkan teladan besar,
yaitu mendahulukan orang lain di atas kepentingannya, bersahaja, dan membatasi konsumsi
pada kemampuan yang ada. Jika belum mampu, harus berusaha sendiri dan tidak
berhutang kepada orang lain. Selanjutnya pelajaran yang dapat diambil dari
cerita tentang mesin jahit adalah sikap beliau yang tidak membocorkan rahasia
negara kepada siapapun, bahkan kepada isterinya sendiri. Beliau tahu betul
bahwa jabatannya tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingannya sendiri dan
pada akhirnya beliau tetap memegang amanhnya dengan kokoh.
Begitulah sosok inspiratif Drs. Mohammad Hatta yang harus kita ketahui
dan berusaha kita amalkan dalam kehidupan kita. Apalagi kita adalah calon
pejabat di lingkungan Pemerintahan yang akan membidangi pelayanan terhadap
masyarakat. Sudah semestinya semangat pemuda masa kini harus melihat kepada
sosok yang telah berjasa besar terhadap negara Indonesia ini yaitu para
pahlawan bangsa, salah satunya yang menjadi pendiri bangsa ini yaitu Drs.
Mohammad Hatta.
Dartar
Pustaka :
http://www.satujam.com/pahlawan-nasional/