Kamis, 09 Juni 2016

Sang Inspirator, Mohammad Hatta

Nama : Anugrah Bhuwana Arganata (04) / 6-B


Sang Inspirator, Mohammad Hatta

            Drs. Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pria yang akrab disapa dengan panggilan Bung Hatta ini merupakan seorang tokoh nasional, negarawan, pelopor koperasi, tokoh proklamator, dan wakil presiden pertama Republik Indonesia. Bung Hatta terlahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ayahnya adalah seorang keturunan ulama di Batuhampar, Sumatera Barat. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Beliau lahir dengan nama Muhammad Athar. Nama Athar diambil dari bahasa Arab yang berarti harum. Beliau merupakan anak kedua setelah Rafiah yang lahir tahun 1900. Sejak kecil Bung Hatta telah dididik dan dibesarkan di keluaarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah yaitu Abdurrahman Batuhampar dikenal sebagai ulama yang mendirikan Surau Batuhampar, yang mana sedikit dari surau yang bertahan setelah Perang Padri. Ayahnya meninggal saat beliau berusia tujuh bulan. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang pedagang dari Palembang yang bernama Agus Haji Ning. Agus Haji Ning sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah, yang merupakan kakek Bung Hatta dari pihak ibu. Dari pernikahan tersebut, terlahirlah empat orang anak yang semuanya adalah permpuan.

            Bung Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta. Setelah enam bulan berada di sekolah swasta, beliau pindah ke Sekolah Rakyat. Namun pada pertengahan semester kelas tiga, kegiatan belajar mengajar dihentikan. Kemudian beliau pindah ke ELS (Europeesche Lagere School; yang merupakan SD pada zaman kolonial Belanda) di Padang sampai tahun 1913. Kemudian beliau melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs: SMP pada zaman kolonial Belanda) sampai tahun 1917. Selain pengetahuan umum, beliau telah ditempa dengan ilmu-ilmu agama sejak kecil. Beliau pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya. Bung Hatta juga tertarik dengan perdagangan. Di Padang, beliau mengenal pedagang-pedagang yang tergabung sebagai anggota Serikat Usaha dan beliau juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatan ini tetap dilanjutkan ketika beliau bersekolah di Prins Hendrik School.

            Bung Hatta memulai karir politiknya ketika menetap di Rotterdam pada tahun 1921 tepatnya saat beliau bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda yang bernama Indische Vereeniging. Pada mulanya, organisasi tersebut hanya merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun seiring dengan berjalannya waktu organisasi tersebut berubah menjadi organisasi kemerdekaan pada saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) bergabung dengan Indische Vereegning yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia.

Di organisai Perhimpunan Indonesia, Bung Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan terpilih menjadi ketua pada tahun 1925. Saat terpilih menjadi ketua PI, Hatta mengumandangkan pidato inagurasi yang berjudul “Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan Kekuasaan”. Dalam pidatonya, beliau mencoba menganalisa struktur ekonomi dunia yang ada pada saat itu berdasarkan landasan kebijakan non-kooperatif. Bung Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia. Sebagai ketua PI saat itu, Bung Hatta memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional untuk perdamaian di Berville, Perancis, pada tahun 1926. Beliau mulai memperkenalkan nama Indonesia dan sejak saat itu nama Indonesia dikenal di kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tahun 1927, Bung Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan berkenalan dengan aktivis nasionalis India, Jawaharhal Nehru.

Aktivitas politik beliau yang semakin intens, mengakibatkan Bung Hatta ditangkap oleh tentara Belanda. Namun beliau bukan satu-satunya pelajar yang ditangkap, ada juga Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat. Selama lima setengah bulan mereka ditahan dan diinterogasi berulang kali sampai akhirnya diajukan ke sidang pengadilan. Bung Hatta menolak didampingi seorang pengacara, beliau akan melakukan pembelaan oleh dirinya sendiri. Sidang di pengadilan akhirnya memutuskan bahwa tuduhan terhadap Bung Hatta dan rekan-rekannya tidak dapat dibuktikan. Akhirnya mereka dibebaskan setelah Bung Hatta berpidato dengan pidato pembelaan berjudul: Indonesia Free.

Pada tahun 1932, Bung Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia dengan diadakan pelatihan-pelatihan. Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Aksi ini mendapat tanggapan keras dari Bung Hatta. Beliau mulai menulis mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi Bung Hatta inilah pemerintah kolonial Belanda mulai memusatkan perhatian pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia dan menangkap pimpinan para pimpinan partai utuk diasingkan ke Digul, Papua.

Bung Hatta adalah salah satu tokoh partai Pendidikan Nasional Indonesia yang juga diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada masa pengasingan di Digul, beliau aktif menulis di berbagai surat kabar. Beliaua juga rajin membaca buku yang beliau bawa dari Jakarta untuk kemudian diajarkan kepada teman-temannya. Selanjutnya, pada tahun 1935 saat pemerintahan kolonial Belanda berganti, Bung Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira. Di sanalah, Bung Hatta dan Sjahrir mulai memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, politik, dan lainnya. Setelah delapan tahun diasingkan, Bung Hatta dan Sjahrir dibawa kembali ke Sukabumi pada tahun 1942. Satu bulan kemudian, pemerintah kolonial Belanda menyerah pada Jepang. Pada saat itulah Bung Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Kemudian beralihlah kekuasaan Kolonial Belanda ke tangan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, sedang terjadi perang antara Blok Poros (Jepang, Italia, Jerman) dan Blok Sekutu ( Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet, China). Jepang membutuhkan banyak pasukan untuk memenangkan perang. Lalu Jepang menjanjikan kemerdekaan apabila perang sudah usai. Untuk itulah pada awal Agustus 1945, dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan kemudian berganti nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan Ir. Soekarno sebagai Ketua dan Bung Hatta sebagai Wakil Ketua. Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Admiral Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.

            Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur 56 tepatnya pukul 10.00 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Dr. Mohammda Hatta atas nama bangsa Indonesia. Keesokan harinya, pada tanggal 18 Agustus 1945 Ir. Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.

            Setelah Indonesia merdeka, selang beberapa bulan tepatnya pada 18 November 1945 beliau menikah dengan  Siti Rachmiati. Siti Rachmiati adalah seorang wanita asal Bandung yang lahir pada 16 Februari 1926. Beliau menikah  di Desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga orang puteri yang bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

            Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah menyebar sampai ke Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Yogyakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian Linggarjati dan perjanjian Renville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda. Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar dihukum oleh PBB. Banyaknya kesulitan yang dialami oleh rakyat Indonesia memunculkan aksi pemberontakan oleh PKI sedangkan Ir. Soekarno dan Bung Hatta ditawan ke Bangka. Selanjutnya kepemimpinan perjuangan dipimpin oleh Jenderal Soedirman. Perjuangan rakyat Indonesia tidak sia-sia. Pada tanggal 27 desembar 1949, Ratu Juliana memberikan pengakuan atas kedaulatan Indonesia kepada Hatta.

            Setelah kemerdekaan benar-benar telah dimiliki oleh rakyat Indonesia, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan. Beliau juga masih aktif menulis berbagai macam karangan dan membimbing gerakan koperasi sesuai apa yang dicita-citakannya. Pada 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato di radio mengenai hari jadi Koperasi dan selang hari lima hari kemudian Beliau diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.

            Pada tanggal 1 Desember 1956, rakyat Indonesia dikejutkan oleh keputusan beliau untuk meletakkan jabatannya sebagai wakil presiden. Pengunduran itu bukan semata-mata lantaran Bung Hatta tak merasa cocok dengan Bung Karno, tetapi juga karena menurutnya sikap DPR yang tidak menetapkan keduanya sebagai presiden dan wakil presiden dengan peranan seharusnya dalam kabinet presidensial. Bung Hatta beserta keluarganya lalu pindah ke Jalan Diponegoro. Ketika memindahkan barang-barang ke rumah barunya, yang mula-mula diangkut beliau bukan perabot rumah tangga, melainkan buku-bukunya. Dari Jalan Merdeka Selatan 13, buku itu diikat jadi satu dalam tumpukan-tumpukan yang sesuai urutan semula dan sebagian bukunya dimasukkan ke dalam peti-peti alumunium yang masih tersimpan sejak dulu.
           
            Pada 14 Maret 1980 Bung Hatta wafat di RSUD dr. Cipto Mangunkusumo. Karena perjuangannya bagi Republik Indonesia sangat besar, Bung Hatta mendapatkan anugerah tanda kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” yang diberikan oleh Presiden Soeharto. Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Bung Karno. Pada 7 November 2012, Bung Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.

            Selama masa hidupnya, ada banyak pelajaran yang dapat diambil untuk dijadikan panutan. Dari masa beliau mengenyam pendidikan dan sampai wafatnya.terdapat kisah insspiratif yang patut kita ketahui dan kita ambil hikmah dari apa yang beliau lakukan. Yaitu cerita beliau mengenai Sepatu Bally dan Mesin Jahit.

            Dalam kehidupan, seorang menginginkan sesuatu adalah merupakan hal yang wajar. Tidak lain seperti yang diinginkan oleh Bapak Proklamator Republik Indonesia dan juga wakil presiden pertama Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta. Beliau menginginkan Sepatu Bally yang sudah lama beliau idamkan. Sepatu Bally adalah sebuah sepatu yang bermerek Bally yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta berusaha menabung untuk membeli sepatu tersebut. Namun tabungannya tidak pernah cukup untuk menbelinya karena selalu digunakan untuk memmenuhi kebutuhan rumah tangganya dan jika ada saudara yang membutuhan bantuan beliau. Beliau bias saja menggunakan posisinya sebagai orang nomor dua di Indonesia untuk mendapatkan sepatu Bally ini dengan sangat mudah. Tetapi beliau tidak melakukannya.

            Yang kedua adalah kisah tentang mesin jahit. Walaupun Bung Hatta saat itu adalah Wakil Presiden Republik Indonesia, namun untuk menbeli mesin jahit tidak semudah yang dibayangkan oleh orang-orang. Untuk membelinya, istri beliau yaitu Siti Rachmiati menabung sedikit demi sedikit dengan menyisihkan dari penghasilan Bung Hatta. Namun, ketika uang telah hampir cukup untuk membeli mesin jahit, tiba-tiba Pemerintah melakukan kebijakan sanering yaitu pemotongan nilai uang dari Rp 100 menjadi Rp 1. Kian jauhlah harapan memiliki mesin jahit bagi Ibu Siti Rachmiati. Lalu beliau bertanya kepada Bung Hatta mengapa tidak segera memberi tahu bahwa Pemerintah akan melakukan sanering. Lalu Bung Hatta pun menjawab dengan kalem bahwa itu rahasia negara, jadi tidak boleh diberitahukan kepada siapapun, termasuk keluarga sendiri.
           
            Dari kisah beliau tersebut, dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Pertama, ketika beliau muda dan saat tersebt adalah saat menimba ilmu beliau selalu berkutat dengan buku yang tak lain adalah pengetahuan. Ke manapun beliau pergi selalu tidak lepas dari buku, bahkan ketika beliau diasingkan. Pada zaman sekarang, teknologi informasi sudah berkembang dengan pesat. Sudah seharusnya pengetahuan kita lebih luas dari Bung Hatta, tapi apakah benar pengetahuan kita lebih luas dari beliau? Atau kita malah terbuai dengan perkembangan teknologi informasi dan malahan menyalahgunakannya? Semoga kita termasuk yang sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan, sebagaimanan Bung Hatta yang mana beliau adalah generasi abad ke 19 namun beliau sadar betul akan pendidikan.

            Yang kedua, yaitu Bung Hatta tidak mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas pada cerita sepatu Bally yang sampai akhir hayat beliau sepatu tersebut tidak pernah terbeli. Sikap beliau meninggalkan teladan besar, yaitu mendahulukan orang lain di atas kepentingannya, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Jika belum mampu, harus berusaha sendiri dan tidak berhutang kepada orang lain. Selanjutnya pelajaran yang dapat diambil dari cerita tentang mesin jahit adalah sikap beliau yang tidak membocorkan rahasia negara kepada siapapun, bahkan kepada isterinya sendiri. Beliau tahu betul bahwa jabatannya tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingannya sendiri dan pada akhirnya beliau tetap memegang amanhnya dengan kokoh.

            Begitulah sosok inspiratif  Drs. Mohammad Hatta yang harus kita ketahui dan berusaha kita amalkan dalam kehidupan kita. Apalagi kita adalah calon pejabat di lingkungan Pemerintahan yang akan membidangi pelayanan terhadap masyarakat. Sudah semestinya semangat pemuda masa kini harus melihat kepada sosok yang telah berjasa besar terhadap negara Indonesia ini yaitu para pahlawan bangsa, salah satunya yang menjadi pendiri bangsa ini yaitu Drs. Mohammad Hatta.

Dartar Pustaka :

           
           







Tidak ada komentar:

Posting Komentar